Daerah

Pemprov Sultra Gerak Cepat Hadapi Ancaman Kekeringan, 2.122 Hektar Sawah Berpotensi Terdampak

592
×

Pemprov Sultra Gerak Cepat Hadapi Ancaman Kekeringan, 2.122 Hektar Sawah Berpotensi Terdampak

Sebarkan artikel ini
Muhammad Taufik

KORANHeadline.com, KENDARI – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Pemprov Sultra) bergerak cepat mengantisipasi dampak kemarau panjang yang mulai mengancam lahan persawahan di sejumlah wilayah.

Melalui Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Sultra, pemerintah daerah melakukan berbagai langkah mitigasi untuk memastikan ketersediaan air bagi lahan pertanian, sekaligus menjaga produktivitas tanaman pangan di tengah perubahan iklim.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Sultra, Muhammad Taufik, mengungkapkan bahwa perubahan iklim yang terjadi saat ini mulai berdampak terhadap sektor pertanian. Sejumlah lahan persawahan di beberapa kabupaten bahkan telah mengalami kekeringan.

“Dan ada tiga kabupaten yang telah mengeluarkan tanggap darurat, yaitu Bupati Bombana, Bupati Kolaka Timur, dan terakhir informasi dari Buton Utara juga sudah mengeluarkan surat tanggap darurat,” ujar Muhammad Taufik, Kamis (20/8).

Menurutnya, pihaknya juga telah meminta seluruh kepala dinas pertanian kabupaten/kota di Sultra untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah antisipasi terhadap potensi kekeringan yang semakin meluas.

Sebagai langkah konkret, Pemprov Sultra telah mendistribusikan sejumlah alat dan mesin pertanian (alsintan), khususnya pompa air, ke wilayah yang memiliki sumber air dan membutuhkan dukungan pengairan.

“Pompa air di Bombana lima unit, Konawe Selatan lima unit, Kota Kendari dua unit dan Kolaka Timur enam unit. Hanya itu yang bisa kita lakukan karena beberapa lokasi yang mengalami dampak kekeringan tidak memiliki sumber air untuk digunakan mengairi persawahan,” jelasnya.

Taufik menegaskan, bantuan pompa air diberikan dengan mempertimbangkan kondisi di lapangan. Jika terdapat sumber air yang dapat dimanfaatkan, pemerintah akan memberikan pompa melalui mekanisme pinjam pakai.

Namun, untuk wilayah yang tidak memiliki sumber air, diperlukan solusi jangka panjang melalui pembangunan irigasi perpompaan.

“Kalau ada sumber air, kita kasih pompa, pinjam pakai. Tapi kalau tidak ada sumber air, langkah-langkah ke depan disiapkan irigasi perpompaan,” katanya.

Selain pompa air, upaya penguatan infrastruktur pengairan juga terus didorong, mulai dari irigasi air tanah, irigasi permukaan hingga perbaikan jaringan dan irigasi untuk mendukung pelayanan terhadap lahan persawahan di sejumlah kabupaten/kota.

Taufik menyebutkan, berdasarkan pemetaan sementara, total potensi lahan padi yang terdampak kekeringan di Sultra mencapai 2.122 hektare. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah agar ancaman kemarau tidembang menjadi gangguan terhadap produksi pangan daerah. “Total potensi kekeringan padi Sultra 2.122 hektare,” pungkasnya. (red)





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *