Advetorial

Jadi Pembicara di Rakor Kerja Otoritas Bandara Irban Wilayah 5, Kadishub Sultra Berharap Sejumlah Bandara Kembali Beroperasi

507
×

Jadi Pembicara di Rakor Kerja Otoritas Bandara Irban Wilayah 5, Kadishub Sultra Berharap Sejumlah Bandara Kembali Beroperasi

Sebarkan artikel ini
Kadis Perhubungan Sultra, Dr. Rajulan, S.T, M.Si (tengah).

KORANHeadline.com, KENDARI – Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Sulawesi Tenggara (Sultra), Dr Rajulan, S.T, M.Si mengikuti Rapat Koordinasi (Rakor) Wilayah Kerja Otoritas Bandara Irban Wilayah 5 untuk Indonesia Timur di Makassar.

Pertemuan ini melibatkan lima provinsi di wilayah tersebut, yang masing-masing diminta mempresentasikan permasalahan terkait penerbangan di daerah mereka. Kadishub berkesempatan menjadi pembicara dalam pertemuan kali ini.

Kadis Perhubungan Sultra, Dr. Rajulan, S.T, M.Si (kiri) usai kegiatan.

Salah satu sorotan utama berasal dari Sulawesi Tenggara, dimana beberapa bandara saat ini tidak lagi beroperasi. Rute Kendari-Wakatobi yang sempat terhenti telah kembali beroperasi sejak 31 Oktober 2024. Namun, rute Makassar-Wakatobi maupun Kendari-Wakatobi belum tersedia. Padahal, rute Kendari-Wakatobi memiliki potensi tinggi tetapi membutuhkan subsidi untuk beroperasi.

Subsidi dianggap penting, tetapi tantangan muncul dari rendahnya tingkat keterisian kursi (load factor) pada rute terkait. “Misalnya, pada rute Kendari-Baubau, penumpang kadang hanya dua hingga tiga orang, sehingga tidak memungkinkan bagi maskapai untuk menutupi biaya operasional pesawat,” ungkap Muhamad Rajulan saat ditemui awak media di ruang kerjanya, baru-baru ini.

Baca Juga :  Dinsos Sultra Dorong Peningkatan Kapasitas TKSK Sebagai Ujung Tombak Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial
Rapat Koordinasi (Rakor) Wilayah Kerja Otoritas Bandara Irban Wilayah 5 untuk Indonesia Timur di Makassar.

Selain itu, sambung Rajulan, hal serupa juga terjadi pada rute Kendari-Muna Barat melalui Bandara Sugimanuru, yang belum memiliki penerbangan aktif. Masalah utama adalah tingginya harga tiket, yang melebihi ambang batas yang ditetapkan Kementerian Perhubungan (Kememhub)

“Maskapai beralasan bahwa biaya operasional pesawat yang tinggi memengaruhi harga tiket, sementara minat penumpang tetap rendah karena adanya alternatif transportasi darat dan laut dengan biaya lebih murah,” terang Rajulan.

Selain Sulawesi Tenggara, kata Rajulan daerah lain di Indonesia juga menghadapi tantangan serupa, termasuk bandara kecil yang kurang beroperasi meskipun berada di lokasi strategis seperti destinasi wisata.

“Wakatobi, yang dikenal sebagai destinasi wisata nasional, masih memiliki penerbangan yang minim, apalagi bandara kecil seperti di Muna Barat,” tambahnya.

Kantor Dishub Sultra.

Namun, ada pengecualian di Bandara Kolaka yang masih tetap aktif karena aktivitas tambang di wilayah tersebut mendukung jumlah penumpang yang stabil.

Baca Juga :  Dinas Cipta Karya, Bina Konstruksi dan Tata Ruang Optimis Gedung Kantor Gubernur Sultra Kelar Tepat Waktu

Upaya Pemprov Sulawesi Tenggara
Dalam rapat ini, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara menyampaikan data permasalahan penerbangan dan menawarkan beberapa solusi. Salah satunya adalah alokasi dana hibah pada tahun 2025 senilai Rp1 miliar masing-masing untuk Bandara Wakatobi dan Bandara Baubau.

“Rapat ini diharapkan dapat menciptakan solusi untuk meningkatkan konektivitas di wilayah Sulawesi Tenggara. Kami telah melakukan berbagai lobi dengan maskapai, tetapi tetap perlu mempertimbangkan alasan mereka. Meski demikian, pemprov akan terus mendukung upaya kabupaten kota untuk menghidupkan kembali bandara-bandara ini,” ucap Rajulan optimis.

Diharapkan melalui koordinasi teknis ini, konektivitas wilayah Sulawesi, khususnya penerbangan, dapat pulih dan berkontribusi terhadap perekonomian dan mobilitas masyarakat.

Salah satu bandara di Sultra, yakni Matahora di Wakatobi. Ist

Dilansir dari TribunnewsSultra.com, saat ini terdapat enam Bandar Udara (Bandara) di Sulawesi Tenggara (Sultra), yakni Bandara Haluoleo, bandara ini terletak di Ambaipua, Kecamatan Ranomeeto, Kabupaten Konawe Selatan.
Sebelumnya bandara ini bernama Bandara Wolter Monginsidi.

Baca Juga :  Bantuan Usaha Ekonomi Produktif Dinas Sosial Sultra Sasar 45 KPM di Tiga Daerah

Kedua ada, Bandar Udara Sugimanuru. Bandar udara yang terletak di Pulau Muna, tepatnya di Kecamatan Kusambi, Kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara.

Ketiga, ada Bandara Matahora. Bandar Udara yang dibangun sejak 2007 ini terletak di Pulau Wangiwangi, Kecamatan Wangiwangi, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Keempat, ada Bandara Betoambari yang terletak di Katobengke, Betoambari, Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara. Memiliki landasan pacu sepanjang 150 x 45 meter.

Kelima, ada Bandara Sangia Nibandera yang terletak di Desa Tanggetada, Kecamatan Tanggetada, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara dan sudah beroperasi sejak 2013.

Bandara dibawan pengelolaan Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas III Sangia Nibandera, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kemenhub.

Terakhir, ada Bandara Maranggo terletak di Patipelong, Kecamatan Tomia, Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara. Bandara ini dibawah pengelolaan Wakatobi Dive Resort. (ADV)

















Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *