KORANHeadline.com, KENDARI – Dalam perkembangannya pada tahun 2025, ekonomi Sulawesi Tenggara tumbuh sebesar 5,79% (yoy). Capaian ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan tahun 2024 yang berada pada angka 5,40% (yoy) dan berada di atas pertumbuhan nasional 5,11%(yoy). Kinerja ekonomi Sulawesi Tenggara pada Triwulan IV-2025 dibandingkan Triwulan IV-2024 tumbuh sebesar 5,94% (yoy).
Dari sisi penawaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Jasa Keuangan sebesar 17,27% (yoy), melalui ekspansi kredit dan transaksi digital, serta LU Akomodasi dan Makan Minum seiring adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan berbagai ajang nasional.
Pertumbuhan juga diperkuat oleh LU Informasi dan Komunikasi akibat lonjakan aktivitas digital masyarakat, meski tertahan oleh kinerja yang lebih rendah pada LU Pengadaan Air dan Administrasi Pemerintahan. Pertumbuhan ekonomi pada sisi permintaan ditopang oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) melalui pembangunan kawasan industri dan fasilitas pendidikan, serta Konsumsi Rumah Tangga yang tetap terjaga daya belinya. Meskipun Konsumsi Pemerintah tumbuh positif, pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan tertahan oleh kontraksi pada kinerja Ekspor besi baja dan Impor bahan bakar minyak (BBM).
Indeks harga konsumen Provinsi Sulawesi Tenggara di bulan Januari 2026 mengalami inflasi sebesar 0,69% (mtm), lebih tinggi dibandingkan dengan capaian bulan Desember 2025 yang mencatat inflasi sebesar 0,22% (mtm), dan berbeda arah dengan catatan Nasional di angka -0,15% (mtm).
Komoditas penyumbang inflasi utama yaitu emas perhiasan, ikan cakalang, ikan lajang, ikan kembung, dan ikan selar dengan andil inflasi masing-masing sebesar 0,25% (mtm); 0,10% (mtm); 0,10% (mtm); 0,06% (mtm) dan 0,04% (mtm). Kenaikan harga emas perhiasan disebabkan oleh tekanan harga emas global sebagai respon ketidakpastian ekonomi sejalan dengan instabilitas geopolitik di beberapa kawasan, yang mendorong peningkatan permintaan komoditas safe haven seperti emas.
Sementara itu, kenaikan harga beberapa jenis ikan didorong oleh penurunan frekuensi melaut nelayan pada Januari 2026 sebagai dampak dari kurang baiknya cuaca dan relatif tingginya gelombang laut di atas 1,5 meter.
“Bank Indonesia Sulawesi Tenggara bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat sinergi dan kolaborasi dalam pengendalian inflasi menjelang Ramadan dan Idul Fitri.
pada Bulan Februari memberikan Support fasilitasi Gerakan Pangan Murah (GPM) dan Fasilitasi Distribusi Pangan yang bekerjasama dengan 8 TPID melalui sinergi dengan Distapang Provinsi Sulawesi Tenggara, Kab. Buton Selata, Kab. Buton Utara, Kota Kendari, Kab. Wakatobi, Kab. Muna, Kab. Buton, dan Kab. Kolaka. Selain itu, Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tenggara terus mendorong akselerasi dan pemanfaatan Kios Pangan bersama Dinas Ketahanan Pangan Kota Kendari,” ungkap Edwin Permadi disela Bincang Bareng Media, Selasa (10/2).
Selanjutnya dalam menjaga kelancaran transaksi masyarakat selama bulan suci Ramadan dan Idul Fitri, Bank Indonesia menyelenggarakan Program SERAMBI (Semarak Rupiah Ramadhan dan Berkah Idulfitri) 2026. Kegiatan SERAMBI 2026 merupakan rangkaian kegiatan pemenuhan kebutuhan uang rupiah dan layanan kas kepada masyarakat periode Ramadan dan Idulfitri 2026 melalui layanan penukaran melalui kas keliling, loket perbankan, hingga penukaran bersama.
Program SERAMBI 2026 menyediakan layanan penukaran Rupiah yang lebih mudah, merata, dan tertib dengan sistem digital PINTAR (https://pintar.bi.go.id). Dalam rangka pemenuhan uang rupiah layak edar kepada masyarakat, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tenggara menyiapkan Rp1,2 Triliun Uang Rupiah Layak Edar pada periode Ramadan dan Idul Fitri 2026.
Berbeda dari tahun sebelumnya, jumlah penukaran per penukar pada SERAMBI 2026 mengalami peningkatan menjadi Rp5.300.000,- atau meningkat 23,2% dibanding tahun 2025 sebesar Rp4.300.000,-.
Pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Tenggara yang solid tidak lepas dari perkembangan transaksi non tunai di Sulawesi Tenggara yang turut didukung oleh tren akseptansi QRIS sebagai game changer pembayaran ritel masyarakat. Dari segi demand, pengguna baru QRIS di Provinsi Sulawesi Tenggara bertambah sebanyak 31.723 pengguna pada TW-IV 2025 dengan total pengguna sebanyak 303.254 pengguna, tumbuh 12% (yoy) dibandingkan TW-IV 2024 yang sebanyak 271.531 pengguna QRIS.
Secara tahunan, pertumbuhan merchant QRIS meningkat 37,65% (yoy) menjadi 239.463 merchant dibandingkan TW-IV 2024 sebesar 173.964. Lebih lanjut, volume transaksi QRIS pada TW-IV 2025 adalah sebanyak 4.364.680 transaksi meningkat 184,61% (yoy) dibandingkan TW-IV 2024 yang sebanyak 1.533.544 transaksi. Jumlah ini akan terus meningkat seiring dengan akseptasi QRIS yang semakin meluas di Sulawesi Tenggara. (red/ID)















