Opini

Fenomena Rojali dan Rohana: Ramai di Mal, Sepi di Kasir

4405
×

Fenomena Rojali dan Rohana: Ramai di Mal, Sepi di Kasir

Sebarkan artikel ini
Nisrina Hamid

Penulis : Nisrina Hamid
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Muhammadiyah Kendari

Setiap akhir pekan, pusat perbelanjaan ramai pengunjung ada yang datang berkelompok, mengenakan outfit yang rapi, berswafoto di sudut estetik mall, dan saling berinteraksi bahkan ada yang sibuk bertanya ataukah hanya sekedar window shopping tetapi tak berujung pada pembelian. Kasir hanya bisa menyaksikan arus lalu lalang tanpa jeda dan mungkin saja penjaga toko dan kasir berbisik dalam hati “ nongkrongnya berampai, tapi dompet tetap saja sepi”. Apa sebenarnya yang terjadi di balik perilaku konsumen ini ?

Kondisi ini mencerminkan fenomena konsumsi yang kini marak diperbincangkan, yakni Rojali (Rombongan Jarang Beli) dan Rohana (Rombongan Hanya Nanya) yang merujuk pada pola perilaku konsumen di pusat perbelanjaan yang tampak ramai secara fisik namun minim aktivitas transaksi. Aktivitas masyarakat datang berkelompok untuk sekedar melihat-lihat, bertanya tentang harga atau fitur produk serta menikmati atmosfer dan estetika ruang mall tanpa melakukan pembelian yang nyata.

Fenomena ini menjadi penanda bergesernya makna konsumsi dari sekadar aktivitas membeli menjadi pengalaman sosial dan emosional di ruang publik, hal ini mengindikasikan bahwa pusat perbelanjaan tidak lagi sekadar tempat bertransaksi tetapi menjadi ajang rekreasi, aktualiasi diri dan pencarian kenyamanan psikologis.

Baca Juga :  HILIRISASI DAN STIGMA MASA DEPAN SURAM PERTANIAN

Fenomena Rojali dan Rohana menunjukkan perubahan cara masyarakat berinterasi dengan ruang konsumsi lebih sebagai penonton daripada pelaku. Dibalik perilaku tersebut, terdapat dua motif psikologis yang saling tarik menarik yaitu need for stimulation dan need for achievement.

1. Need for Stimulation : Teori ini dikembangkan oleh Zuckerman tahun 1979 yang dikenal dengan teori ‘’ Sensation Seeking Theori” yang salah satunya menjelaskan tentang need for stimulation yaitu dorongan untuk mencari pengalaman baru, intensitas emosional dan variasi menjadi ciri khas dengan tingkat sensation seeking yang tinggi.

Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat kita cenderung suka eksplorasi, mencari hal hal baru dan menikmati keramaian yang membuat mereka berpartisipasi dalam berbagai aktivitas di ruang publik. Individu ini lebih mungkin terlibat dalam pengalaman yang memberikan stimulasi visual, sosial, atau emosional, seperti berkunjung ke mall untuk menikmati atmosfer, berinteraksi dengan orang lain, dan mencari momen-momen menarik untuk dibagikan di media sosial. Keinginan mereka untuk merasakan rangsangan baru menciptakan dinamika menarik dalam perilaku konsumen, di mana pengalaman sosial sering kali menjadi prioritas utama dibandingkan dengan transaksi belanja itu sendiri.

2. Need for achievement. Teori ini dikembangkan oleh McClelland tahun 1960-an yang menjelaskan bahwa individu memiliki tiga kebutuhan salah satunya adalah need for achievement. orongan psikologis seseorang untuk merasa berhasil atau mencapai tujuan tertentu, terutama dalam konteks belanja, mencakup lebih dari sekadar memiliki barang. Konsumen yang memiliki motivasi ini seringkali melakukan pembelian dengan perencanaan, mengetahui apa yang dicari sebelum datang ke toko atau membuka aplikasi belanja. Mereka memilih secara selektif dan efektif, tidak tergoda untuk membeli barang di luar rencana, dan fokus pada apa yang dianggap penting. Rasa puas muncul ketika mereka berhasil mendapatkan barang yang berguna, murah, dan berkualitas, menciptakan perasaan “berhasil” karena keputusan yang diambil dianggap tepat.

Baca Juga :  Pendampingan Masyarakat dalam Perencanaan dan Pengelolaan Proyek Infrastruktur Desa

Fenomena rojali dan Rohana menunjukkan bahwa dominasi need for stimulation di ruang komersial sementara need for achievement melemah disebabkan oleh beberapa faktor yang pertama daya beli terbatas (keinginan yang tidak selaras dengan kemampuan financial yang terbatas) dan pilihan yang terlalu banyak menyebabkan decision fatigue dan keraguan). Data Survey Ekonomi Nasional (Susenas) BPS Maret 2025 menunjukan bahwa kelompok masyarakat 20% teratas atau terkaya justru mulai menahan konsumsi mereka.

Tercatat kelompok 20% penduduk terkaya berkontribusi 45,56% dari total pengeluaran nasional per maret 2025. Angka ini turun jika dibandingkan pada September 2024 sebesar 46,24% dan juga lebih rendah dari 45,91 Maret 2024. Data ini menjadi sinyal bahwa kelompook atas mulai menahan konsumsi. Kemungkinan besar keloimpok ini lebih selektif menunda pembelian atau mengalihkan konsumsi dalam bentuk investasi ataukah ada kemungkinan munculnya dorongan need for achievement yang lebih rasional dan efisien. Walau bukan kelompok yang rentan tetapi kelompok ini bisa merespon ketidakpastian ekonomi dengan menahan belanja. Hal ini juga menjadi indikator awal perlambatan ekonomi karena konsumsi rumah tangga salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional. Lalu apa khabar dengan masyarakat rentan khususnya kelas ekonomi menengah kebawah.

Baca Juga :  KETIDAKADILAN DALAM AKSES LAYANAN KESEHATAN DI INDONESIA: PENYEBAB, DAMPAK DAN SOLUSI

Namun demikian terlalu instan jika kita menilai bahwa Rojali dan Rohana sebagai “ Konsumen Gagal” tetapi fenomena ini justru mengajarkan kita bahwa telah terjadi pergeseran perilaku konsumen hari ini yang tidak lagi berbicara soal “ apa yang dibeli” tetapi apa yang dialami, dibagikan dan dirasakan”. Disinilah pentingnya membaca fenomena ini dari dua lensa yang berbeda yakni ekonomi makro yang menyoroti struktur dan daya beli menurun karena tekanan ekonomi serta lensa pemasaran yang memahami makna dari motif di balik konsumsi. OPINI

















Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!