KORANHeadline.com, KENDARI – Kepala Dinas Cipta Karya, Bina Konstruksi dan Tata Ruang Sultra, Dr. Ir. Martin Effendi Patulak, M.Si memastikan pengerjaan Patung Haluoleo yang berlokasi di Kecamatan Ranomeeto, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) masih on progres.
Kabar baik ini ia sampaikan saat dimintai keterangan jurnalis KORANHeadline.com di Kantor Dinas Cipta Karya, Bina Konstruksi dan Tata Ruang Sultra, Senin (18/11/2024) siang.

Menurutnya, pembangunan Patung Haluoleo di kawasan Bandar Udara Haluoleo menjadi momentum baik dalam memperkuat nilai-nilai sejarah dan tentunya mempererat persatuan di kalangan masyarakat Bumi Anoa (sebutan untuk Sultra).
“Dudukannya ini sudah hampir selesai, termasuk patungnya juga sudah hampir selesai. Akhir bulan patungnya akan di bawa dari Jogya karena dirakit disana,” terang Martin Effendi sembari menjawab pertayaan awak media.

Orang nomor satu di Dinas Cipta Karya, Bina Konstruksi dan Tata Ruang menargetkan peresmian monumen sejarah ini bisa terlaksana diawal tahun depan. Dirinya pun berharap Patung Haluoleo bisa diresmikan langsung oleh Pj Gubenur Sultra, Komjen Pol (Purn) Dr (HC) Andap Budhi Revianto, S.I.K, M.H.
“Peresmiannya mungkin di tahun depan. Jika sudah siap baru kita akan koordinasikan dengan pimpinan. Kami berharap ini bisa diresmikan Bapak Pj Gunernur Sultra,” ungkap ASN yang juga pernah menjabat Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Sultra.
Sementara itu, Kabid Cipta Karya Dinas Cipta Karya, Bina Konstruksi dan Tata Ruang Sultra, La Liusu, S.T, M.P.W.K. menambahkan, progres pembangunan Patung Haluoleo senilai Rp2,6 miliar ini sudah berada diangka 45 persen. Kepada media, La Liusu juga optimis pengerjaannya rampung diakhir tahun.
“Kita optimis pengerjaannya tuntas diakhir tahun. Rencana peresmian kita masih menunggu arahan pimpinan yang jelas kami fokus dulu menyelesaikan pekerjaan. Mudah-mudahan tepat waktu,” ujarnya La Liusu.

La Liusu berharap, pembangunan Patung Haluoleo menjadi icon Sulawesi Tenggara dan tentunya menjadi kebangaan masyarakat, khususnya masyarakat daratan. “Tentunya ini menjadi kebanggaan kita, kebanggaan masyarakat Sulawesi Tenggara, mari kita jaga bersama,” pinta La Liusu.
Sebagai informasi, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tenggara (Sultra) melalui Dinas Cipta Karya, Bina Konstruksi dan Tata Ruang mulai membangun patung pahlawan asal Bumi Anoa ini pada 2 Oktober 2024.

Sebelumnya, Sekretaris Daerah (Sekda) Sultra menuturkan bahwa pembangunan Patung Haluoleo tidak hanya berfungsi sebagai penghargaan terhadap sejarah, tetapi juga sebagai warisan budaya bagi generasi mendatang. Ia menekankan bahwa menjaga nilai-nilai sejarah sangat penting untuk memperkuat identitas dan keharmonisan masyarakat.
“Pemprov Sultra berkomitmen merespon aspirasi masyarakat, termasuk pembangunan Patung Haluoleo,” terang Jenderal Aparatur Sipil Negara (ASN) Sultra
Haluoleo dikenal sebagai sosok pemersatu dan pejuang yang gigih memperjuangkan kepentingan rakyat. Namanya dikenal di seluruh wilayah Sultra dengan berbagai sebutan, seperti La Kilaponto di Muna, Murhum di Buton, dan Haluoleo di kalangan masyarakat Tolaki.
Dukungan dari Lembaga Adat Tolaki dan Akademisi
Pembangunan patung ini mendapat dukungan penuh dari Lembaga Adat Tolaki (LAT), yang sebelumnya mengusulkan pembangunan ini melalui DPRD Sultra. Bisman Saranani, Sekjen DPP LAT, menyambut baik langkah Pemprov Sultra.
Dukungan ini diperkuat oleh pernyataan Prof. La Niampe, pakar kebudayaan dari Universitas Halu Oleo, yang menilai bahwa pembangunan patung ini akan memperkuat kecintaan masyarakat terhadap sejarah dan kebudayaan Sulawesi Tenggara.
Menurut Prof. La Niampe, Haluoleo, yang juga dikenal sebagai La Kilaponto atau Murhum, adalah sosok yang menyatukan kerajaan-kerajaan tradisional di Sulawesi Tenggara. Dalam penelitiannya, ia mengaitkan Haluoleo dengan Sugi Manuru, raja Muna, yang memiliki keturunan bangsawan dari berbagai daerah di Nusantara. Hal ini menunjukkan betapa kompleks dan luasnya pengaruh Haluoleo dalam sejarah regional.
Prof. La Niampe juga menyebutkan bahwa pemahaman tentang sejarah Haluoleo harus terus digali dan disebarluaskan agar generasi muda tidak kehilangan identitas budaya mereka. Ia berharap bahwa dengan berdirinya Patung Haluoleo, masyarakat akan semakin terdorong untuk mempelajari dan melestarikan sejarah kebudayaannya.
Simbol Persatuan dan Keharmonisan
Pembangunan Patung Haluoleo juga diharapkan menjadi simbol persatuan dan keharmonisan di Sulawesi Tenggara. Dengan adanya monumen ini, Pemprov Sultra berharap masyarakat dapat terus menjaga kerukunan yang telah tercipta selama ini dan tidak mudah terpengaruh oleh isu-isu negatif yang memecah belah.
Monumen ini akan menjadi salah satu landmark penting yang tidak hanya melambangkan sejarah, tetapi juga masa depan yang penuh harapan bagi masyarakat Sulawesi Tenggara. (ADV)












