Berita Utama: Breaking news terbaru hari ini - Simak laporan selengkapnya hanya di KORANHeadline.com!
MetropolisPendidikan

FHIL UHO Gelar Seminar Internasional ICFE 2026, Satukan Akademisi Bahas Kehutanan dan Isu Lingkungan

1021
×

FHIL UHO Gelar Seminar Internasional ICFE 2026, Satukan Akademisi Bahas Kehutanan dan Isu Lingkungan

Sebarkan artikel ini
FHIL UHO Gelar Seminar Internasional ICFE 2026, Satukan Akademisi Bahas Kehutanan dan Isu Lingkungan

KORANHeadline.com, KENDARI – Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan (FHIL) Universitas Halu Oleo (UHO) mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, pemerintah hingga mahasiswa dalam seminar internasional The 2nd ICFE 2026 (International Conference of Forestry and Environment) di Claro Hotel Kendari, Rabu (7/10/2026).

Mengusung tema “Forest for Future: Climate, Biodiversity, and Sustainability”, forum tersebut menjadi ruang pertukaran gagasan dan hasil penelitian terkait masa depan pengelolaan hutan dan lingkungan di tengah tantangan perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, pemanasan global dan tuntutan pembangunan berkelanjutan.

Kegiatan dibuka langsung Wakil Rektor IV UHO, Prof. Takdir Saili, dan melibatkan sejumlah perguruan tinggi serta lembaga mitra, di antaranya UHO, Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia, Universitas Hasanuddin (Unhas), serta sejumlah institusi lainnya.

Turut hadir Dekan FHIL UHO Dr. Lies Indriyani, M.Si bersama jajaran. Sementara jajaran keynote speaker menghadirkan Silverius Oscar Unggul, S.P., M.M dari Kementerian Kehutanan, Prof. Wan Mohd Nazri Wan Abdul Rahman dari Universiti Teknologi MARA Malaysia, Prof. Muhammad Alif K. Sahide dari Unhas, Prof. Paul J. Kessler dari Leiden University, Belanda, serta Dr. Ahmad Dermawan dari Norwegian University.

Wakil Rektor IV UHO, Prof. Takdir Saili, mengatakan forum internasional tersebut menjadi kesempatan bagi para dosen sekaligus peneliti untuk menyampaikan berbagai temuan penelitian yang telah dilakukan.

“Kesempatan ini sebenarnya bagi para dosen yang juga sekaligus peneliti, itu ajang mereka untuk menyampaikan apa temuan-temuan mereka,” ungkapnya.

Menurutnya, kehadiran peserta dari berbagai latar belakang tidak hanya memperkaya diskusi akademik, tetapi juga membuka ruang bagi peneliti untuk melihat hasil riset dari perspektif pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat.

“Bukan hanya dari akademisi, tapi juga dari pemerintah, dari lembaga swadaya masyarakat. Jadi bisa memperkaya perspektif mereka tentang apa yang mereka dapatkan dari hasil penelitian tersebut,” jelasnya.

Prof. Takdir menambahkan, UHO memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan forum ilmiah seperti ICFE. Menurutnya, kegiatan serupa juga dilaksanakan oleh fakultas lain sebagai bagian dari upaya memperluas jejaring akademik dan kolaborasi antarlembaga.

Sementara itu, Dekan FHIL UHO Dr. Lies Indriyani mengatakan, konferensi internasional tersebut merupakan agenda rutin yang dilaksanakan secara bergantian dengan seminar nasional. ICFE internasional digelar setiap dua tahun dan diselingi kegiatan seminar nasional.

“Tahun lalu itu seminar nasional, sekarang seminar internasional, tahun depan insyaallah seminar nasional, tahun depan lagi yang ketiga,” terangnya.

Ia menjelaskan, hasil diskusi dalam forum tersebut diharapkan tidak berhenti pada ruang akademik, tetapi dapat menjadi masukan bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan, khususnya terkait pengelolaan hutan dan lingkungan.

“Diskusi yang mengikuti secara langsung maupun offline, hasil diskusi itu mungkin bisa jadi masukan untuk pemerintah, mungkin kebijakan. Jadi ada untuk implementasinya terkait dengan konsep kebijakan. Lalu ada juga untuk prosidingnya,” ujarnya.

Ketua Panitia ICFE 2026, Dr. Zulkarnain, S.Hut., M.Si, menambahkan konferensi tersebut merupakan gelaran kedua setelah pertama kali dilaksanakan pada 2024 dan diinisiasi oleh FHIL UHO.

Menurutnya, ICFE 2026 dirancang sebagai ruang pertemuan bagi akademisi, stakeholder, praktisi, mahasiswa dan peneliti untuk bertukar gagasan, pengalaman serta membangun kolaborasi dalam menghadapi berbagai persoalan kehutanan dan lingkungan.

“ICFE 2 ini sebenarnya bertujuan untuk mempertemukan akademisi, stakeholder, para praktisi, kemudian mahasiswa dan para peneliti untuk saling bertukar gagasan, pengalaman, juga untuk men-challenge sehingga ke depannya memungkinkan untuk membangun kolaborasi dan jejaring,” jelasnya.

Ia menyebut sejumlah isu strategis menjadi perhatian utama dalam forum tersebut, mulai dari perubahan iklim global, keberlanjutan, biodiversitas hingga pemanasan global. Karena itu, hasil-hasil penelitian yang dipresentasikan diharapkan dapat menjembatani kepentingan akademik dengan kebutuhan praktis di lapangan.

“Melalui forum-forum terbuka seperti ini, baik itu melalui oral presentasi maupun melalui makalah, pihak-pihak yang punya penelitian dan ingin men-share hasil penelitiannya kemudian di-challenge oleh publik, baik itu praktisi ataupun pemerintah, punya kesempatan untuk men-share di sini,” bebernya.

Zulkarnain menambahkan, forum tersebut juga diharapkan mampu menghasilkan jejaring dan kolaborasi baru yang dapat mendorong lahirnya rekomendasi serta kebijakan yang lebih komprehensif dalam pengelolaan hutan dan lingkungan.

“Melalui forum ini juga diharapkan bisa terbangun kolaborasi, jejaring sehingga benar-benar bisa menghasilkan kebijakan yang komprehensif terutama dalam kaitannya dengan pengelolaan hutan,” pungkasnya. (red/id)

 







Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Utama: Breaking news terbaru hari ini - Simak laporan selengkapnya di sini!