Berita Utama: Breaking news terbaru hari ini - Simak laporan selengkapnya hanya di KORANHeadline.com!
InternasionalPendidikan

ICFE 2026 FHIl UHO, Peneliti Eropa Bahas Strategi Rantai Pasok Komoditas untuk Tekan Deforestasi Global

629
×

ICFE 2026 FHIl UHO, Peneliti Eropa Bahas Strategi Rantai Pasok Komoditas untuk Tekan Deforestasi Global

Sebarkan artikel ini
ICFE 2026 FHIl UHO, Peneliti Eropa Bahas Strategi Rantai Pasok Komoditas untuk Tekan Deforestasi Global

KORANHeadline.com, KENDARI – Upaya mengurangi deforestasi global melalui pengelolaan rantai pasok komoditas menjadi salah satu isu penting yang dibahas dalam seminar internasional The 2nd ICFE 2026 (International Conference of Forestry and Environment) yang digelar Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan (FHIL) Universitas Halu Oleo (UHO) di Claro Hotel Kendari, Rabu (7/10/2026).

Salah satu narasumber dalam forum tersebut yakni Dr Ahmad Dermawan dari Norwegian University. Ia memaparkan peran berbagai inisiatif dalam mengelola rantai pasok komoditas sebagai bagian dari upaya penghapusan atau pengurangan deforestasi di tingkat global.

Menurut Ahmad, pembahasan tersebut diarahkan untuk melihat bagaimana masing-masing inisiatif dalam rantai pasok bekerja, termasuk tujuan, cakupan serta mekanisme yang digunakan untuk memastikan komoditas yang dihasilkan tidak berkontribusi terhadap kerusakan hutan.

“Yang saya presentasikan adalah tentang peran berbagai inisiatif untuk mengelola rantai pasok komoditas dalam rangka penghapusan atau pengurangan deforestasi global,” ujar Ahmad.

Ia menjelaskan, evaluasi terhadap inisiatif rantai pasok juga melihat aspek yang menjadi titik berat, apakah lebih berorientasi pada kepentingan ekonomi, ekologi maupun sosial. Kerangka tersebut kemudian digunakan untuk memahami berbagai bentuk inisiatif yang berkembang dalam pengelolaan komoditas.

Salah satu bentuknya, kata dia, adalah sertifikasi terhadap komoditas seperti kayu, kelapa sawit dan kedelai. Sertifikasi menjadi salah satu instrumen untuk memastikan proses produksi hingga rantai pasok memenuhi standar tertentu, termasuk aspek keberlanjutan dan perlindungan hutan.

Selain sertifikasi, terdapat pula inisiatif berupa komitmen perusahaan. Perusahaan-perusahaan besar dapat menetapkan target tertentu untuk memastikan rantai pasok mereka terbebas dari deforestasi dengan mengatur para pemasok agar memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan.

“Perusahaan-perusahaan besar mempunyai komitmen agar pada tahun tertentu mereka bisa bebas dari deforestasi. Mekanismenya dengan mengatur bagaimana perusahaan tersebut mengelola rantai pasok supplier-nya,” jelasnya.

Ia mencontohkan komoditas kelapa sawit. Perusahaan perlu memastikan produk yang diterima dari pemasok berasal dari lahan yang proses produksinya tidak menyebabkan kerusakan atau pembukaan hutan.

Selain sertifikasi dan komitmen perusahaan, Ahmad juga menyoroti European Union Deforestation Regulation (EUDR) sebagai salah satu mekanisme yang saat ini mendapat perhatian dalam perdagangan komoditas global.

Menurutnya, melalui EUDR, Uni Eropa berupaya memastikan sejumlah komoditas yang dinilai berisiko terhadap deforestasi dan masuk ke wilayah tersebut tidak berasal dari lahan yang mengalami pembukaan hutan setelah batas waktu yang ditetapkan, yakni 2020.

“Uni Eropa ingin memastikan produk-produk kunci yang berisiko menghasilkan deforestasi yang masuk ke wilayah Uni Eropa tidak berasal dari lahan yang membuka hutan sejak 2020,” pungkasnya.
Pembahasan tersebut sejalan dengan tema “Forest for Future: Climate, Biodiversity, and Sustainability” yang diusung dalam The 2nd ICFE 2026.

Forum ini menjadi ruang pertukaran gagasan dan hasil penelitian mengenai masa depan pengelolaan hutan dan lingkungan di tengah tantangan perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, pemanasan global serta tuntutan pembangunan berkelanjutan.

Kegiatan tersebut dibuka langsung Wakil Rektor IV UHO, Prof. Takdir Saili, dan melibatkan UHO, Universiti Teknologi MARA (UiTM), Universitas Hasanuddin (Unhas), serta sejumlah lembaga dan mitra lainnya. Turut hadir Dekan FHIL UHO Dr. Lies Indriyani, M.Si bersama jajaran.

Sementara keynote speaker menghadirkan Silverius Oscar Unggul, S.P., M.M dari Kementerian Kehutanan, Prof. Wan Mohd Nazri Wan Abdul Rahman dari Universiti Teknologi MARA Malaysia, Prof. Muhammad Alif K. Sahide dari Unhas, serta Prof. Paul J. Kessler dari Leiden University, Belanda. (rec/id)







Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Utama: Breaking news terbaru hari ini - Simak laporan selengkapnya di sini!