KORANHeadline.com, KENDARI – Dinas Pertanian Kota Kendari meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan yang mulai melanda kawasan persawahan di wilayah Amalo. Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kota Kendari saat ini menghadapi kondisi kekeringan yang berpotensi memengaruhi sektor pertanian.
Kepala Dinas Pertanian Kota Kendari, Imran Ismail mengatakan, pihaknya terus melakukan pemantauan di lapangan sekaligus menyiapkan berbagai langkah mitigasi untuk mencegah kekeringan meluas dan mengganggu produksi pertanian.
“Kami terus terang cukup waspada dengan kondisi seperti ini, terutama di daerah persawahan Kota Kendari yaitu di Amalo. Kami terus melakukan pemantauan lapangan dan sudah menurunkan beberapa bantuan untuk mitigasi kekeringan berupa pompa,” kata Imran, Jumat (21/8), usai kegiatan penanaman cabai.

Menurutnya, sejak tahun sebelumnya telah ditempatkan sebanyak 14 unit pompa di kawasan tersebut, termasuk dukungan sumur bor. Selain itu, Dinas Pertanian Kota Kendari juga telah berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi IV untuk memperkuat penanganan kekeringan.
Imran menyebutkan, mulai tahun ini BWS Sulawesi IV akan membantu pembangunan tujuh sumur bor di kawasan persawahan Amalo. Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Tenggara juga telah memberikan bantuan dua unit pompa air untuk mendukung kebutuhan petani.
“Untuk terakhir pemantauan, daerah terdampak sekitar 16 hektare. Tapi alhamdulillah belum sampai taraf puso. Jadi kami tetap waspada,” ujarnya.
Ia menjelaskan, luas lahan yang berpotensi terdampak kekeringan diperkirakan dapat mencapai 20 hektare apabila kondisi sumber air terus mengalami penurunan. Karena itu, pihaknya akan kembali berkoordinasi dengan BWS Sulawesi IV untuk meminta dukungan pompa air mobile guna membantu mengairi lahan persawahan.
“Pompa sebenarnya sudah banyak, baik dari bantuan pemerintah maupun swadaya masyarakat. Tetapi masalah sekarang adalah airnya. Debit air sudah sangat kurang,” jelasnya.
Salah satu sumber air yang diharapkan dapat dimanfaatkan adalah aliran Sungai Wanggu. Namun, jaraknya yang cukup jauh membuat diperlukan pompa mobile milik BWS untuk menarik air ke kawasan persawahan.
“Kami akan coba berkomunikasi dengan BWS, setidaknya meminta bantuan mobilisasi pompa air mobile yang mereka miliki untuk membantu penyiraman, karena terus terang sumber air yang menjadi masalah sekarang,” tambahnya.
Sementara itu, Imran juga mengungkapkan kondisi pertanaman di kawasan Labibia. Menurutnya, kegagalan pertanaman di wilayah tersebut bukan disebabkan oleh kekeringan, melainkan beberapa kendala lain, termasuk faktor sumber daya manusia dan gangguan ternak sapi terhadap benih yang telah dihampar.
Ia mengatakan, pihaknya telah melakukan penghamburan benih sebanyak dua kali, namun kembali mengalami kegagalan karena benih terganggu oleh ternak.
“Kami setelah langkah yang dilakukan kemarin juga berkoordinasi dengan keamanan, baik Bhabinkamtibmas maupun kelurahan untuk mengantisipasi ini. Kalau sudah aman, kami akan melakukan intervensi kembali di sana,” pungkasnya. (red)












