KORANHeadline.com, KENDARI – Di tengah hiruk-pikuk penanganan banjir kota dan ketika instansi terkait baru memulai tahap identifikasi titik penyumbatan air, seorang warga bernama Sundoyo telah mengambil langkah sunyi namun nyata.
Tanpa menunggu bantuan pemerintah maupun pihak sekolah, Sundoyo bertahun-tahun bergerak secara mandiri memastikan kawasan di belakang MAN 1 Kendari tetap terawat.
Langkah ini diambil Sundoyo demi mencegah banjir dan penumpukan sampah yang kerap menghantui wilayah tersebut. Baginya, menunggu birokrasi bekerja terlalu lama, sementara lingkungan tempat tinggalnya butuh penanganan segera.
Inisiatif Pribadi di Tengah Pengabaian
Sundoyo mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi drainase dan kebersihan di sekitar pagar MAN 1 Kendari yang selama ini sangat memprihatinkan. Merasa tidak ada tindakan konkret dari pemerintah setempat maupun pihak sekolah yang berbatasan langsung dengan lokasi tersebut, ia memutuskan untuk memikul tanggung jawab itu sendirian.
Segala upaya pembersihan, mulai dari membabat rumput liar yang meninggi hingga menebang pohon yang menghalangi laju air di drainase, dilakukan atas inisiatif pribadi.
“Kita harus peduli dengan lingkungan kita. Ini bentuk swadaya sendiri panggil orang membantu babat rumput, tebang pohon dan membersihkan area sekitar. Jadi yang saya panggil ya kita bayar ongkos kerjanya,” tegas Sundoyo, Senin (9/12).
Dedikasi Sundoyo tak main-main. Ia rela merogoh kocek pribadinya untuk membayar tenaga bantuan ketika volume sampah dan rumput liar sudah terlalu berat untuk ditangani seorang diri. Hal ini dilakukan semata-mata agar lingkungan tetap layak dan aman dari genangan air.
Edukasi Melalui Pemasangan Banner Mandiri
Kepedulian Sundoyo tidak berhenti pada aksi fisik semata. Ia menyadari pentingnya edukasi bagi masyarakat sekitar dan warga sekolah. Secara swadaya, ia mencetak dan memasang banner berisi imbauan serta larangan membuang sampah di dinding pagar sekolah.
Langkah ini diambil untuk memantik rasa malu dan empati dari orang-orang yang melintas. Namun, ia tak menampik rasa kecewanya terhadap minimnya respons dari pihak-pihak terkait.
“Saya pasang dengan harapan ada kepedulian maupun empati dari semua pihak. Tapi kenyataannya tidak ada yang peduli,” ungkapnya dengan nada kecewa.
Menepis Klaim Pemerintah
Aksi nyata yang dilakukan Sundoyo ini seolah menjadi antitesis dan bantahan keras terhadap klaim peninjauan yang baru-baru ini dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Kendari.
Bagi warga seperti Sundoyo, identifikasi masalah tanpa eksekusi hanyalah formalitas belaka. Apa yang ia lakukan setiap hari—turun ke lapangan, membersihkan selokan, dan mengeluarkan biaya sendiri—adalah bentuk kritik paling tajam terhadap lambatnya respons pemangku kebijakan.
Warga berharap pemerintah tidak hanya hadir sekadar untuk melakukan survei atau seremonial peninjauan, tetapi mulai memberikan apresiasi nyata dan dukungan alat maupun tenaga bagi gerakan swadaya masyarakat yang selama ini menjadi garda terdepan menjaga wajah kota dari kekumuhan. (red/ID/)















