KORANHeadline.com, KENDARI – Layanan darurat Call Center 112 di Command Center Balai Kota Kendari ternyata tidak hanya menerima laporan genting seperti kebakaran atau pohon tumbang.
Di balik dering telepon yang masuk, terselip kisah-kisah unik, mulai dari mahasiswa yang stres menyusun skripsi hingga aksi ‘prank’ yang dilakukan anak-anak.
Koordinator Harian Call Center 112, Suliman, mengungkapkan bahwa hingga saat ini tercatat lebih dari 3.000 panggilan yang masuk ke pusat komando tersebut.
Namun, dari ribuan panggilan itu, hanya 248 laporan yang merupakan kejadian sungguhan atau tiket yang diproses secara serius.
Dari ratusan laporan valid tersebut, Suliman menyebutkan bahwa masalah lingkungan dan infrastruktur masih menjadi yang paling dominan. Pohon Tumbang & Penebangan: 54 laporan (diteruskan ke DLHK), Perbaikan Lampu Jalan (LPJU): 48 laporan (diteruskan ke Dishub), dan Gangguan PLN: Menjadi salah satu aduan yang juga menonjol di masyarakat.
“Sejauh ini, sekitar 70% dari laporan tersebut sudah berhasil ditangani dengan baik,” ujar Suliman.
Banjir Panggilan ‘Prank’ dan Tempat Curhat
Hal yang cukup mencengangkan adalah jumlah panggilan “main-main” atau prank yang mencapai lebih dari 1.000 panggilan.
Sebagian besar pelakunya adalah anak-anak yang seringkali melontarkan kata-kata kasar atau sekadar melakukan panggilan lalu mematikannya (missed call).
“Untuk yang prank, kami langsung ambil tindakan tegas dengan memblokir nomor tersebut selama 1×24 jam agar tidak mengganggu jalur darurat,” tegas Suliman.
Tak hanya prank, operator 112 juga kerap menjadi “pendengar setia” bagi warga. Ada mahasiswa yang menelpon hanya untuk curhat karena lelah mengerjakan skripsi, hingga ibu rumah tangga yang mengadu karena suaminya belum pulang saat larut malam.
Meskipun bukan termasuk kategori darurat medis atau keselamatan, pihak 112 tetap berusaha melayani dengan ramah. “Namanya pelayanan publik, tetap kita layani dengan baik,” tambahnya.
Suliman menghimbau kepada seluruh masyarakat Kota Kendari agar lebih bijak dalam menggunakan layanan gratis ini.
Ia menekankan bahwa jalur 112 seharusnya diprioritaskan untuk kondisi darurat yang mengancam nyawa atau fasilitas publik, seperti banjir, kebakaran, atau kecelakaan.
“Gunakanlah layanan ini secara bijak. Jangan sampai jalur yang seharusnya digunakan untuk melaporkan kejadian darurat tertutup oleh panggilan yang sifatnya hanya main-main,” pungkasnya. (red/ID)















